Waiting for our wedding

Daisypath Wedding tickers

adsense

Senin, 15 November 2010

Richard Marx - Hold On To The Nights (Video Version)


Share/Bookmark

Richard Marx - Now And Forever (Video Version)


Share/Bookmark

Sabtu, 09 Oktober 2010

Kucing Yang Baik Hati

Jika sedang ada duit lebih, aku suka iseng nongkrong di warung tenda pecel lele lamongan. Menikmati sedikit kuliner enak dan berkualitas. Meski harganya nggak sampai 20ribu satu porsi, tetap saja aku menunggu ada duit lebih untuk makan disana, karena kegiatan itu bukan menjadi agenda tetap tiap minggu. Kenapa aku memilih warung tenda? Karena aku nggak terlalu suka restoran2  junkfood, meskipun tentu saja terlihat sedikit keren dan mewah.
Pernah satu kali saat aku sedang asyik menyantap lele goreng itu, aku melihat seekor kucing yang tak biasa. Duduk tepat di depan pintu tenda, tempat orang lalu lalang keluar masuk tenda. Kucing itu hanya duduk manis dan terdiam. Tidak mengeong layaknya kucing kelaparan. Kulirik sejenak ke arahnya, dia terlihat menatapku, aku sempat heran apa gerangan yang aneh pada diriku. Hingga seekor kucing menatapku dengan serius dan khidmat. Seperti seorang ajudan tentara yang sedang melaksanakan tugasnya. Kucing itu benar2 diam seperti celengan. Tak sedikitpun terusik dengan bau ikan lele gurih yang sedang ku santap. Kucing itu benar2 seperti kucing yang pernah ikut kursus manajemen qolbunya  AA Gym, dia tahu bagaimana caranya menahan diri dari hawa nafsu.
Jika kalian ada disini dan melihat wajah kucing itu, SubhanAlloh...kalian pasti akan sependapat denganku, bahwa wajah kucing itu memang terlihat sangat memelas. Matanya itu…!
Aku yang melihat langsung bagaimana kurusnya tubuh kucing itu, tiba-tiba merasa iba dan kasihan. Pada seekor kucing?? Ya nggak papa kan?. Itu tandanya aku masih punya kepekaan melihat ketimpangan social yang nggak adil, meski di dunia kucing. Sebab aku terbiasa melihat kucing yang gemuk-gemuk dan hidupnya makmur. Di setiap jalan yang pernah kulalui. Sekarang ada seekor kucing didepanku yang sepertinya membutuhkan pertolongan. Sebagai seorang manusia yang dikaruniai akal tentu aku tahu apa yang harus ku perbuat. Segera saja ku sisihkan kepala lele yang sedang ku santap dan kulemparkan kea rah kucing itu. Namun aneh, kucing itu sama sekali tak bereaksi terhadap kepala lele yang sudah tergeletak pasrah didepanya. Sempat terpikir olehku, kalau kucing itu buta atau rabun. Tapi dari sorot matanya yang terus-menerus menatapku, kucing itu terlihat normal dan bisa melihat. Sempat terpikir juga mungkin kucing itu vegetarian, lalu kucoba lempar lalapan yang ada di piringku. Plus sambelnya. Orang2 yang melihatku disitu mungkin berpikir aku orang aneh dan kurang kerjaan. Terserah mereka. Perhatianku hanya tertuju pada kucing aneh itu.
Hanya selang beberapa detik ketika akhirnya kulihat kucing itu akan menyantap kepala lele pemberianku , tiba-tiba datanglah dua ekor kucing yang lebih kecil menghampirinya. Kucing yang lebih besar itupun mengurungkan niatnya memakan kepala lele itu dan mempersilahkan dua ekor kucing yang lebih kecil yang baru datang untuk menyantap makananya beramai-ramai. Benar-benar aku dibuat terperangah oleh sikap kucing yang ternyata baik hati itu.
Karena aku juga baik hati dan tidak pelit J, maka kuputuskan untuk membeli seekor lele goreng lagi dan meminta pelayanya untuk membungkus tanpa sambel dan nasi. Niatku ingin kuberikan pada kucing yang baik hati tadi. Setelah selesai membayar dan belum sempat aku beranjak untuk melewati kucing2 tadi, kulihat kucing yang baik hati itu sudah pergi meninggalkan kucing2 kecil yang sedang asyik menyantap kepala lele berikut tulang2nya. Meninggalkanku juga. Ya Tuhan semoga dia mendapat pahala setimpal, aku tak tahu ada relasi apa antara dia dan kucing2 kecil ini, mungkin mereka anaknya atau tetangganya atau mungkin teman baiknya. Yang pasti aku telah dibuat kagum dan terperangah oleh kedermawanan kucing yang baik hati itu. Dan kuputuskan untuk mencarinya sebelum aku pulang untuk menyerahkan lele yang sengaja aku beli untuknya.
Setelah aku berkeliling sekitar warung tenda , aku benar-benar tak menemukan kucing yang baik hati itu. Dia seperti lenyap begitu saja ditelan malam. Karena sudah terlalu malam kuputuskan untuk pulang sambil berharap bertemu dia di tengah perjalanan. Namun hingga tiba didepan rumah aku sama sekali tak menemukan kucing lapar yang baik hati itu, dengan perasaan yang campur aduk kuputuskan untuk membuang bungkusan lele tadi ketempat sampah. Bukanya lebay…tapi benar-benar perasaan ini antara sedih dan kecewa. Sedih karena Tuhan belum mengijinkan aku untuk sedikit berbuat baik, yang mungkin bisa sedikit menghapus dosa-dosaku yang menumpuk.

Bekasi, oktober 2010


Share/Bookmark

Minggu, 19 September 2010

Untuk Sebuah Nama, dimana Terselip Bunga didalamnya...

Terima kasih Tuhan, telah Engkau pertemukan aku dengannya..

Dia yang pernah menjadi bagian, dalam setiap mimpiku...

mimpi tentang perjalanan panjang diatas pilar-pilar harapan..

tentang langkah yang menapaki gugusan gemintang masa depan..

Telah berpuluh purnama, aku terpisah darinya..

kini dia hadir dengan membawa beribu harapan..


kini, biarkan ku bersenandung pada malam, pada rintik hujan..

wahai malam...dan juga rintik hujan..

jika kalian merasa lelah...menepilah,

biarkan mata ini tetap terjaga dalam beku dinginmu,

agar tak kubiarkan rasa ini berlalu...

mungkin telahpun buram dan berlapuk debu malam ini melipat waktu..

biarkan mata ini tetap terjaga dalam beku dinginmu..

agar tak kubiarkan wajahmu berlalu dari balik mataku..


meski tlah berpuluh purnama kutunggu,,,hadirmu

dalam setiap harap dan doaku, namun wajahmu tak lekang oleh waktu..

Engkau yang seindah Bunga disela-sela namamu..

kutitipkan kepadanya sepenggal rasa yang tertinggal dari pucuk-pucuk cemara mimpi..

di penghujung hari,

setelah kuarungi perjalanan panjang..dan melelahkan hati..

untuk menjemputmu, dalam balutan malam yang mengantarkan engkau ke peraduanmu..

senandung malamku mengiringi perjalanan mimpimu..

sementara engkau terlelap dalam malam yang semakin tua..


berpuluh purnama telah berlalu,,,

dan kini, senandung malamku telah membawamu

kepangkuanku.....


untukmu, Bunga Yang teramat berharga...



Share/Bookmark

Minggu, 22 Agustus 2010

Tentang Cinta dan Perkawinan

Cinta, bagi sebagian orang termasuk saya adalah sesuatu hal yang amat rumit. Cinta memiliki makna beragam. Sederhana namun susah dipecahkan. Sejak kelahiranya di dunia, manusia sudah dibekali dengan sifat ini. Dan sepanjang hidup hingga akhir hayatnya dia akan selalu bersinggungan dengan cinta. Namun apakah kita benar-benar  telah memahami arti dari kata cinta ini? Jawabanya adalah,…tidak. Mengapa? Karena cinta, selain menjadi pemanis dan berujung pada kebahagiaan, dia juga dapat menjadi setajam pedang, yang setiap saat bisa membunuh jiwa-jiwa yang rapuh.
Pun demikian halnya dengan perkawinan, bagiku, mungkin tidak bagi kalian, bahkan lebih rumit daripada cinta. Perkawinan bisa jadi merupakan kelanjutan dari cinta, bisa jadi pula merupakan awal dari cinta, bahkan bisa jadi merupakan akhir dari perjalanan cinta. Perkawinan mungkin juga sebuah pembuktian juga mungkin sebuah tujuan.
Ada sebuah analogi tentang cinta dan perkawinan, yang aku kutip dari sebuah dialog antara guru dan muridnya. Sebut saja mereka Plato dan Socrates, kedua orang bijak ini akan mencoba menganalogikan cinta dan perkawinan. Bagiku, yang merasa selalu dimusuhi oleh kedua “kata” ini, membaca dialog antara plato dan Socrates sedikit bayak dapat memberi gambaran. Apakah sebenarnya cinta dan perkawinan itu?
Berikut ini isi dialognya:
Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya socrates, “Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? “
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di depan sana.Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya? “
Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”
Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah terlalu buruk, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya. “
Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”


Pelajaran yang dapat kita petik dari dialog diatas adalah:
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kita mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan yang ingin kita dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya
---Arie---


Share/Bookmark